Jejak Pejuang Probolinggo: Kastip dan Kelap
Anak-anaknya tidak ada yang bisa seperti Pak Kastip. Saya pun merasa belum mampu menyandang nama Kastip…
Kalimat itu dilontarkan Nani Kastip, kali ini dengan nada berat, di tengah perbincangannya dengan penulis, Rabu (8/7/2020) pagi di bolinggo café n distro di Jl Soekarno Hatta 36 Kota Probolinggo.
Kastip merupakan salah satu nama tentara Probolinggo yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Seusai masa gerilya, Kastip meneruskan perjuangan melalui jalur politik sebagai anggota DPRD Kota Probolinggo di tahun 1970-an.
Pada 22 Desember 1987, Kastip meninggal dunia dalam usia 64 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Probolinggo di Jl Arif Rahman Hakim.
***
Nama lengkapnya Kastip Budi Rahardjo. Ia terlahir di Kecamatan Tikung, Kabupaten Lumajang pada 20 Juli 1923. Bapaknya seorang petani kecil. Kastip merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Dalam keluarga ini, hanya Kastip yang menjadi tentara.
Di usia muda, prajurit Kastip menikah dengan Soepatmi, seorang perempuan asli Desa Bulujaran, Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo. Di masa gerilya, pasangan muda ini sama-sama berjuang untuk tanah air. Kastip berjuang sebagai tentara. Soepatmi ikut berjuang di dapur umum, menyediakan makanan bagi para pejuang.
Sebelum terjadi agresi militer Belenda yang pertama, pasangan Kastip-Supatmi dikaruniai anak pertama: seorang lelaki yang diberi nama Saiful Bahri.
Pada saat Saiful Bahri masih berumur 8 bulan, Kastip diperintahkan bertugas di Surabaya. Dari Lumajang, Kastip membawa istri dan anaknya berangkat ke Surabaya, melewati Probolinggo. Ketika perjalanannya masuk wilayah Probolinggo, Kastip beserta istri dan anaknya mengalami kontak senjata dengan tentara Belanda.
“Anak pertama (Saiful Bahri, red) yang waktu itu masih dalam gendongan ibu, kena tembak dan meninggal dunia. Ibu saya juga ikut kena tembak. Ada bekas luka memanjang di siku kanan ibu saya. Kalau Pak Kastip juga punya luka tembak atau apa, tetapi di kaki,” tutur Nani Kastip.
Saiful Bahri, putra pertama Kastip yang tertembak tentara Belanda itu dimakamkan di kawasan Jl Cempaka, Bremi (sekarang masuk Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan).
Selanjutnya, dari Probolinggo, Kastip bersama istrinya melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Setelah beberapa waktu ditugaskan di markas tentara di Sulung, Surabaya, Kastip diperintahkan berangkat ke Manado.
Kastip pergi menunaikan tugas ke Manado seorang diri. Keluarganya tetap tinggal di Surabaya. “Saya tidak tahu ya, ke Manado ini tepatnya menjalankan tugas apa. Pokok ceritanya, setelah dari Manado, ayah saya ditugaskan kembali ke Probolinggo,” ujar Nani.
Kastip masuk Probolinggo di masa mendekati agresi militer Belanda pertama. Saat itu Kastip usianya menginjak 24 tahun. Agresi militer pertama terjadi di tahun 1947. Kastip ikut berjuang di masa agresi, dan harus kehilangan putra keduanya.
“Waktu itu sudah ada anak kedua, laki-laki juga. Tetapi saya lupa namanya. Anak kedua ini juga meninggal kena tembak,” kisah Nani sambil membetulkan face shield model kacamata yang dikenakannya.
Nani kemudian merunut cerita yang dia dengar dari orang tuanya tentang meninggalnya putra kedua Kastip di masa agresi militer pertama. Menurut Nani, pada saat terjadi agresi, tentara Kastip ikut diperintahkan menghadang tentara Belanda bersama sekutunya yang datang dari arah timur.
“Saya tidak tahu apa pangkatnya Pak Kastip waktu itu. Pokoknya yang saya dengar ceritanya itu, ayah saya perang lawan tentara Belanda di Bentar itu bersama temannya, Pak Kelap,” kata Nani.
Merujuk catatan sejarah, pada saat terjadi agresi militer pertama pada Juli 1947, tentara Belanda mendarat di Pasir Putih Situbondo dan langsung bergerak menuju Probolinggo. Di Probolinggo, tentara agresi berusaha dihadang oleh tentara Indonesia di Bukit Bentar.
Namun, sebelum sampai Bukit Bentar, tentara Indonesia sudah kocar-kacir karena kalah jumlah, kalah senjata. Tentara Belanda kemudian masuk jantung kota Probolinggo dan menguasainya.
Penduduk bersembunyi. Tentara Indonesia menyelamatkan diri ke arah selatan. Tentara agresi menumpahkan peluru kepada siapa saja tentara maupun penduduk pribumi yang terlihat. Dalam situasi inilah putra kedua Kastip tertembak tentara Belanda.
“Anak kedua ini sudah cukup besar. Wong sudah bisa jalan kok. Tetapi, setelah tertembak itu, masih hidup dan berusaha diselamatkan ibu ke arah selatan,” kata Nani.
Namun, nyawa putra kedua Kastip tidak berhasil diselamatkan. Jenazahnya dimakamkan di sebuah dataran tinggi di Desa Bulujaran, Kecamatan Tegalsiwalan. “Dulu saya masih kuat naik, nyekar di makam yang tinggi itu. Sekarang, mbuh kuat opo nggak,” seloroh Nani yang hari itu tampak modis meski dengan hanya memadukan kaos hitam dengan rok panjang warna gelap dan kerudung lebar warna merah.
***
Agresi militer pertama dan kedua telah berlalu. Kemerdekaan Republik Indonesia diakui dunia. Indonesia membangun dipimpin Presiden pertama Soekarno. Tetapi, kehidupan di masa kemerdekaan pasca agresi dirasa masih sangat berat bagi keluarga Kastip. “Ayah saya itu kan tentara kerucuk (sebutan untuk pangkat rendah). Jadi, ayah saya harus bekerja keras menghidupi keluarganya,” tutur Nani Kastip.
Sejak tinggal di Probolinggo, Kastip dan keluarganya mula-mula menghuni sebuah bangunan tua yang menjadi markas tentara di timur terminal lama. Lalu seiring perjalanan garis hidup, Kastip dan keluarganya mampu memiliki rumah sendiri di Jl Mayjen Haryono Gg VI di Kelurahan Jati.
Sepeninggal dua putra di masa gerilya, pasangan Kastip-Soepatmi kemudian dikaruniai 6 anak. Masing-masing adalah perempuan bernama Waluyati; lelaki bernama Didik Waluyanto; perempuan bernama Wiwik Waluyatin; lelaki bernama Gatot Waluyatno; perempuan bernama Wahyuningsih; dan perempuan bernama Nani Sri Peni yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Nani Kastip.
Setelah masa gerilya, tentara Kastip melakukan berbagai pekerjaan sambilan untuk menghidupi keluarganya. “Zaman itu, gaji tentara tidak seberapa. Ayah saya bekerja apa saja, yang penting halal,” kata Nani.
Nani meneruskan ceritanya, setelah zaman agresi, mula-mula ayahnya nyambi bekerja mencari rumput untuk pakan ternak. “Jadi tentara sambil bekerja cari rumput. Rumputnya ya dijual kepada orang yang punya hewan ternak,” ujarnya.
Selain menjadi penyabit rumput, tentara Kastip juga merintis jualan bahan bakar minyak (BBM) bensin. Kastip diberi tempat untuk berjualan di depan markas Benglap (Bengkel Lapangan) di Jl Panglima Sudirman Kota Probolinggo. “Kulakan bensin, lalu jualan di depan Benglap itu. Mulanya dari botol-botol kecil, terus sampai bisa punya pompa kecil itu,” ujar Nani.
Dalam kisah Nani, ayahnya dulu memiliki hubungan dekat dengan tokoh militer yang juga seorang dokter, yaitu Ibnu Sutowo.
Pada 1957, KSAD Abdul Haris Nasution menunjuk Ibnu Sutowo untuk mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (Permina). Selanjutnya, pada tahun 1968, Permina digabung dengan perusahaan minyak milik negara, dan berganti menjadi Pertamina sampai sekarang.
“Ayah saya memang dekat sama Pak Ibnu Sutowo. Kan sama-sama tantara, mantan atasannya. Waktu jualan bensin di botol-botol kecil, yang memodali ya Pak Ibnu Sutowo,” kata Nani.
Di masa itu, Kastip dan keluarganya harus menjalani kehidupan yang keras dan berat. Nani ingat, pada saat ayahnya berjualan bensin di botol kecil-kecil, dirinya masih sekolah TK (Taman Kanak-Kanak). “Waktu itu kami tidak mampu makan nasi. Hanya bisa makan gaplek,” ujar Nani kali ini dengan intonasi meninggi.
Namun, pelan-pelan usaha jualan bensin botolan yang dijalankan Kastip rupanya semakin berkembang. Terlebih setelah Kastip mendapat bantuan modal usaha berupa pompa kecil. Karena sudah memiliki pompa mini, Kastip tidak perlu lagi memasukkan bensin ke dalam botol-botol. “Pompa kecil itu dulu dimodali atasannya di tentara, Kolonel Sumarsono,” tutur Nani.
Bisnis jualan bensin yang dirintis tentara Kastip terus bergerak maju. Dari kelas botolan, naik jadi kelas pompa mini. Dan pada 1971, usaha dagang bensin tentara Kastip sudah naik level lagi menjadi pom (sekarang disebut SPBU: Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Kastip bisa membangun pom di Jalan Raya Soekarno Hatta di Kelurahan Pilang.
Pom Pilang itu dulu diresmikan oleh Walikota Probolinggo Harto Harjono (memimpin pada periode 1970-1980), dan menjadi pom bensin pertama di Probolinggo. “Pom bensin pertama dan satu-satunya di Probolinggo dulu ya pom Pilang itu,” kata Kastip.
Seiring perjalanan usahanya yang moncer, kehidupan tentara Kastip pun ikut bergerak naik. Kastip kemudian memberanikan diri terjun ke kancah politik. Melalui partai terbesar di masa itu: Partai Golkar, Kastip duduk sebagai anggota DPRD Kota Probolinggo di tahun 1970-an.
“Tidak ada yang tiba-tiba. Pak Kastip, tantara kerucuk, merintis dari bawah. Dulu saya masih pernah merasakan Pak Kastip dan keluarganya tidak bisa makan nasi, karena tidak mampu…” ucap Nani.
Cerita hidup tentara Kastip sudah berubah. Tetapi, walau telah menjadi orang besar, sosok Kastip tidak pernah berubah karakternya. “Waktu ayah saya meninggal, teman-temannya banyak yang memberi pesan begini ke saya, ‘jadilah seperti ayahmu. Orang yang jujur dan sosialnya tinggi.’ Memang ayah saya itu prinsipnya begini, lebih baik dirinya yang tidak makan, daripada melihat ada orang lain yang tidak bisa makan,” tutur Nani.
Pada 22 Desember 1987, Kastip meninggal dunia dalam usia 64 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Probolinggo di Jl Arif Rahman Hakim.
Pada nisannya di TMP Kota Probolinggo, tertulis nama H. Kastip Budi Rahardjo dengan pangkat terakhir Peltu atau Pembantu Letnan Satu, dan nomor register pokok (NRP) 116934. Peltu Kastip terakhir tergabung dalam kesatuan Benglap TNI AD.
Sepeninggal Kastip, Soepatmi terguncang. Perempuan yang telah bertahun-tahun lamanya mendampingi Kastip, kehilangan belahan jiwanya. “Untuk beberapa waktu lamanya, kami anak-anaknya yang mendampingi ibu,” kisah Nani.
Lalu pada 2001, Soepatmi, menyusul berpulang.
Kastip telah menorehkan jejak kepahlawanan. Ia tidak hanya turun langsung di gelanggang perang, tetapi juga sampai kehilangan dua putranya.
Selesai peperangan, Kastip harus berjuang dari bawah untuk menghidupi diri dan keluarganya. “Pak Kastip itu tentara kerucuk. Tetapi sangat jujur, keras dan disiplin, termasuk untuk urusan mendidik anak-anaknya. Dan alhamdulillah, semua anaknya bisa menempuh pendidikan sampai sarjana,” kata Nani.
Ya, pasangan Kastip-Soepatmi berhasil mengantarkan enam anaknya sampai menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Waluyati merupakan sarjana ekonomi dari akademi (sekarang bernama STIPAK) di Surabaya. Sebelum meninggal pada 2019, Waluyati pernah berkiprah menjadi ketua FKPPI (Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI/Polri).
Didik Waluyanto lulusan perguruan tinggi di Jerman. Ia memilih spesialisasi Teknik mesin dengan gelar Diploma Engineering.
Berikutnya Wiwik Waluyatin menuntaskan Pendidikan di perhotelan, tepatnya di NHTI (National Hotel and Tourism Institute) Bandung (sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata (STP).
Gatot Waluyatno merupakan sarjana ekonomi. Ia lulusan STIE Malangkucecwara. Sebelum meninggal dunia pada 2003, Gatot Waluyatno pernah mengabdi sebagai anggota DPRD Kota Probolinggo.
Anak ketujuh, Wahyuningsih, merupakan lulusan Fakultas Sosial Politik (Sospol) Universitas Jember. Saat ini Wahyuningsih ikut suaminya, tinggal di Jerman.
Anak terakhir, Nani Sri Peni atau Nani Kastip, merupakan sarjana hukum lulusan Unmer Malang. Meski sarjana hukum, tetapi Nani lebih suka berkecibak di dunia seni yang dia rasa lebih membuat jiwanya lebih hidup. Dia pun serius belajar kesenian di jalur formal dengan kuliah di Lembaga Kesenian Jakarta (LKJ) yang kini menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
***
Jejak Kastip Budi Rahardjo semasa menjadi anggota DPRD Kota Probolinggo di tahun 1970-an tidak berhasil terlacak oleh penulis. Senin (13/7/2020) penulis mengunjungi DPRD Kota Probolinggo untuk menghimpun data tentang nama-nama anggota DPRD Kota Probolinggo tahun 1970-an.
Dari meja resepsionis, penulis diarahkan untuk mencari informasi di Bagian Tata Usaha Sekretariat Dewan (Sekwan). Di dalam ruang Bagian Tata Usaha saat itu ada 6 orang staf. Waktu penulis menyebutkan maksud sedang mencari data tentang nama-nama anggota DPRD Kota Probolinggo tahun 1970-an, para staf itu langsung terkesiap. Alis matanya pada naik.
“Kami tidak punya kalau data dewan tahun 70-an,” kata salah seorang staf perempuan berhijab di sudut ruangan. “Yang ada hanya data anggota dewan yang baru. Coba mas cari data dewan tahun 1970-an di Dinas Perpustakaan dan Arsip…” sambungnya.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Probolinggo terletak di Jl Letjen Sutoyo nomor 3, persis di samping barat kantor Kelurahan Tisnonegaran. Pada saat mengunjungi dinas itu, penulis diarahkan menemui staf di bagian arsip.
Dua perempuan yang menemui penulis saat itu memberi jawaban dengan mengulum senyum. “Kalau DPRD saja tidak punya datanya, apalagi kami…” kata staf yang berhijab.
Keduanya kemudian bercakap-cakap pasal penyerahan data dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah). “Jadi mas…Kantor Arsip baru punya data atau arsip setelah OPD menyerahkan datanya ke Kantor Arsip. Kantor Arsip baru menerima arsip dari Sekwan itu pada tahun 2018. Sebelum itu, tidak ada sama sekali. Jadi, kami tidak punya data anggota dewan sebelum tahun 2018,” kata perempuan berambut ikal yang menjadi kepala di ruangan itu.
Staf perempuan berhijab di depannya kemudian menelepon seseorang di Sekretariat DPRD Kota Probolinggo. Yang mereka bicarakan tidak jauh soal penyerahan data/arsip DPRD Kota Probolinggo yang baru dilakukan tahun 2018. Sebelum tahun itu, tidak pernah ada penyerahan data DPRD ke Dinas Perpustakaan dan Arsip.
“Memang baru-baru ini saja mas ada arsiparis di OPD-OPD Pemkot Probolinggo,” kata staf berhijab itu setelah meletakkan ponselnya.
Arsiparis, secara ringkas adalah seseorang yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan, hasil pendidikan formal. Arsiparis mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan.
Pemkot Probolinggo sendiri baru mulai 2015 banyak merekrut PNS dengan spesifikasi arsiparis. “Sampai sekarang ini ada 19 orang arsiparis di Pemerintah Kota Probolinggo. Ini (19 orang arsiparis, red) adalah yang paling banyak di Jawa Timur,” ujar staf berhijab itu.
Konon karena memiliki arsiparis terbanyak, Pemkot Probolinggo pernah meraih penghargaan nasional. Namun, walau memiliki 19 arsiparis dan disebut sebagai yang paling banyak dibanding kota/kabupaten lain di Jawa Timur, tetap saja jumlah itu masih belum mencukupi.
Dari 28 OPD di Pemkot Probolinggo, hanya ada 10 OPD yang sudah memiliki arsiparis. Sepuluh OPD yang sudah memiliki arsiparis ialah Dinas Perpustakaan dan Arsip; Dispenduk dan Capil; DKUPP; Bagian Pemerintahan; Bagian Umum; Bagian Kesra; BPKAD; Dinas Kesehatan; Sekretariat DPRD; dan Dinas Sosial.
***
Minggu 20 Juli 1947 sirine tanda bahaya dibunyikan di Probolinggo. Saat itu di langit Probolinggo kapal udara kolonial Belanda melayang-layang menebar ancaman.
Dalam ringkasan sejarahnya, Belanda tidak mengakui Perjanjian Linggarjati yang berisi persetujuan tentang status kemerdekaan Indonesia. Belanda ingin menguasai kembali Indonesia, terutama Jawa dan Sumatera.
Disebut Perjanjian Linggarjati karena perundingannya dilakukan di Linggarjati, Jawa Barat. Sebenarnya, hasil perundingan Linggarjati sudah ditandatangani di Istana Merdeka, Jakarta pada 15 November 1946. Namun, Perjanjian Linggarjati baru secara sah diteken oleh Indonesia dan Belanda pada 25 Maret 1947.
Pada 15 Juli 1947, Belanda mulai ingkar janji. Letnan Gubernur Jenderal Belanda Johannes van Mook mengeluarkan ultimatum agar Indonesia menarik mundur pasukan sejauh 10 kilometer dari garis demarkasi. Ultimatum ini ditolak oleh pimpinan Republik Indonesia.
Lalu pada 20 Juli 1947, Johannes van Mook melalui siaran radio menyatakan bahwa Belanda sudah tidak terikat lagi dengan Perjanjian Linggarjati 25 Maret 1947. Sejak hari itu Johannes van Mook memproklamirkan operasi militer bernama “operatie product” atau yang kemudian disebut sebagai Agresi Militer Belanda jilid pertama.
Agresi Militer Belanda I ini berlangsung selama 21 Juli – 5 Agustus 1947, berlokasi di Jawa dan Sumatera. Tujuan utama Belanda dalam Agresi Militer pertama ialah mengambil alih pusat ekonomi, terutama daerah yang kaya sumberdaya alam di Sumatera dan Jawa, serta menguasai kembali pelabuhan di Jawa.
Pada operasi militer ini diperkirakan Belanda mengerahkan 100 ribu tentara dengan persenjataan modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh Inggris dan Australia (sumber: wikipedia).
Buku “Probolinggo Dalam Kantjah Revolusi 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 1950” yang diterbitkan Bagian Penerangan Probolinggo pada 17 Agustus 1950 cukup rinci menggambarkan peristiwa Agresi Militer Belanda I di wilayah Probolinggo sebagai berikut.
Senin 21 Juli 1947 sirine tanda bahaya kembali dibunyikan di Probolinggo. Dibanding sehari sebelumnya, kali ini lebih menakutkan. Sirine bahaya dibunyikan mulai pukul sembilan pagi sampai sebelas siang.
Pukul sebelas siang itu, diterima berita bahwa tentara Belanda mendarat di Ketapang, Banyuwangi. Berita berikutnya datang lagi: tentara Belanda mendarat di Pasir Putih Situbondo.
Pukul 14.30, sirine tanda bahaya dibunyikan lagi. Kali ini sirine terus dibunyikan sampai pukul 4 sore. Dan pukul 4 sore itu datang lagi berita yang semakin menegangkan: tentara Belanda sudah melewati Kraksaan. Di antaranya ada delapan tank jenis M4A3.
Pada saat melakukan agresi militer pertama, Belanda sudah diperkuat peralatan tempur yang canggih. Selain mengerahkan tank M4A3, Belanda juga mengerahkan kendaraan tempur LVT 4 Buffalo dan M8 Greyhound.
Sirine yang dibunyikan pukul 4 sore itu terdengar terakhir kalinya. Setelah itu kapal udara Belanda melayang-layang di langit Probolinggo, amat-amat rendah, seperti sedang hendak menebar maut. Suara tembakan kian lama terdengar kian mendekat.
Di Kraksaan, Kompi Polisi Tentara Republik Indonesia yang dipimpin Letnan Moh. Iljas sudah lebih dulu dibikin kocar-kacir oleh tentara Belanda.
Di dalam kota Probolinggo, situasi genting ini dijawab Komandan Bataljon Matjan Koembang (Macan Kumbang) Major Abdussjarif dengan perintah. Kompi Mustafa Kamal diperintahkan menghadang tentara Belanda di Gunung Bentar, sekitar 7 kilometer dari kota Probolinggo.
Tetapi, baru sampai di daerah Dringu, truk tentara Indonesia sudah kocar-kacir diserang tentara Belanda. Dalam momen inilah tentara bernama Kelap dan Kastip ikut serta. “Jadi, Kastip itu anak buahnya Kelap,” kata Abu Sadali, anak menantu Kelap saat ditemui penulis di kediamannya di Jl Serma Abdurrahman, tak jauh dari Pasar Randupangger Kota Probolinggo, Senin (13/7/2020).
Sementara, serangan tentara Belanda di Dringu membuat tentara Indonesia kocar kacir karena kalah jumlah dan persenjataan. Sebagian besar anak buah Mustafa Kamal mundur ke selatan.
Pukul lima sore, tentara Belanda masuk wilayah Kota Probolinggo. Rakyat bersembunyi menyelamatkan diri. Siapa saja pribumi yang tampak oleh Belanda, diberondong. Korban-korban bergelimpangan di depan toko, pasar, dan sebagainya.
Masih ada perlawanan dari tentara Indonesia. Selain memerintahkan pasukannya melakukan penghadangan di Bentar, Major Abdussjarif saat itu juga memerintahkan Sersan Major Surojo dengan dua anggotanya agar menjaga markas bataljon (sekarang menjadi markas CPM di Jl Suroyo).
Perintah Major Abdussjarif, Serma Surojo tidak boleh meninggalkan markas. Sebab, markas itu tak ubahnya benteng pertahanan terakhir. Karena itu, saat tentara Belanda datang menyerang markas, Serma Surojo dan dua anggotanya tetap gigih melawan sampai titik darah penghabisan. Serma Surojo dan dua anggotanya akhirnya gugur.
Senin sore 21 Juli 1947 Probolinggo jatuh ke tangan tentara Belanda.
***
Pria itu bernama Subiyakto. Di usia senja, tubuh veteran ini terlihat masih tegap. Dia merupakan Ketua LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Probolinggo. Waktu ditemui di “markas” LVRI Probolinggo di Jl Basuki Rahmat Kota Probolinggo, Senin (13/7/2020) itu, Subiyakto tampak sibuk mengawasi beberapa anggota LVRI yang tengah beres-beres dalam ruang pertemuan kantornya.
Subiyakto yang hari itu berkemeja batik, mengaku tidak bisa memberikan penjelasan tentang peristiwa agresi militer Belanda. Sebab, masa agresi militer terlalu jauh dengan usianya, dan tentu bukan masa tugasnya sebagai tentara.
Lalu waktu disodorkan nama tentara Kastip dan Kelap, Subiyakto juga mengaku tidak tahu banyak. Tetapi, Subiyakto mengaku pernah mendengar nama tantara Kelap. Ada anak menantu Kelap yang masih sering berkunjung ke markas LVRI Probolinggo. “Namanya Pak Abu Sadali. Itu (Abu Sadali, red) tahu betul cerita perjuangannya Pak Kelap,” ujarnya kemudian memberi ancar-ancar rumah Abu Sadali.
Rumah Abu Sadali berada di selatan Pasar Randupangger. Tetapi, Senin siang itu waktu dikunjungi di rumahnya, Abu Sadali tidak ada. Dia sedang berada di sebuah warung nasi yang berada tepat di depan pintu utara Pasar Randupangger. Warung nasi itu milik adik Abu Sadali.
Saat itu sekitar pukul 10.30. Sepiring nasi jagung campur nasi putih terendam sayur bening klenthang dengan lauk pepes ikan tongkol tersaji di hadapan Abu Sadali. Tetapi, karena kedatangan penulis, Abu Sadali jadi urung menyantapnya.
“Cerita perjuangan Pak Kelap, mau buat apa?” kata Abu Sadali. Penjelasan ringkas penulis tentang tujuan menulis cerita para tokoh pejuang dari Probolinggo membuat Abu Sadali langsung paham. “Saya bercerita berdasar apa yang saya ketahui saja. Pak Kelap itu dulu tidak gampang bercerita. Tetapi saya yang dulu banyak bertanya,” kata Abu Sadali dengan nada rada terbata, tetapi masih tetap jelas dan tegas.
Abu Sadali bukan tentara. Dia seorang pensiunan guru di Probolinggo. Karirnya moncer dari seorang guru sampai terakhir menjadi kepala kantor.
Abu Sadali tidak tahu tahun kelahirannya yang tepat. Ia bercerita, pada saat lulus Sekolah Rakyat pada tahun 1951, Sadali disebut berumur 12 tahun. Jadi, berdasar penyebutan itu, Sadali lahir pada 1939.
Sedangkan untuk data kepegawaiannya, menurut Sadali, kelahirannya tercatat tahun 1935. “Ya begitu orang zaman dulu…” tutur pria jangkung dengan rambut dan alis memutih itu.
Pada saat terjadi agresi militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947, Abu Sadali ingat dirinya masih sekolah SR kelas III atau IV. Tetapi ia sudah ikut merasakan bagaimana ketegangan dan kepanikan penduduk Probolinggo pada masa itu.
“Sirine itu bunyi terus, nguang…nguing... Pesawat Belanda muter-muter terus di atas. Lha Pak Kelap itu ke (bukit) Bentar, bawa senjata yang magasennya bunder, menembaki pesawat Belanda. Ya nggak nyampe pelurunya…” kata Abu Sadali diiringi tawa kecil.
“Tetapi Pak Kelap itu memang orangnya pemberani,” sambungnya, kali ini bermimik serius.
Menurut Abu Sadali, Kelap punya nama asli Markam Dachlan Kelap Wijaya. Kelap merupakan penduduk asli Wiroborang.
Kelap mulanya menjadi tentara di masa pendudukan Jepang. Kelap menjadi anggota Heiho Darat (Angkatan Darat) dengan pangkat kopral. Pada saat terjadi agresi militer Belanda pertama, Kelap sudah berpangkat letnan.
Adik Kelap, yaitu Moyar, juga menjadi tentara di zaman pendudukan Jepang. Bedanya, si adik masuk kesatuan Heiho Kaigun (Angkatan Laut).
“Nah, Pak Kastip itu dulu mulanya tentara angkatan laut. Lalu di Probolinggo Pak Kastip bergabung dengan angkatan darat, menjadi anak buah Pak Kelap,” ujar Abu Sadali. “Dulu di masa perjuangan, kesatuan-kesatuan dalam tentara kita kan memang belum (tertib, red) seperti sekarang,” lanjutnya.
Dalam ingatan Abu Sadali, Kelap adalah sosok yang lengkap. Selain seorang pemberani di medan perang, Kelap sangat senang dengan kesenian rakyat sejenis tayub. “Pak Kelap itu sangat senang dengan tandakan (cara lain menyebut seni tayub, red). Karena itu, pergaulannya sangat luas. Termasuk kenal dengan para penjahat-penjahat zaman itu,” katanya.
Probolinggo di awal tahun 1947, jumlah penduduknya relatif sudah padat. Di wilayah Kabupaten Probolinggo jumlah penduduknya 514.246 jiwa. Sejumlah 510.888 di antaranya adalah penduduk pribumi, 2.928 jiwa adalah etnis Tionghoa, dan 430 jiwa adalah etnis Arab dan India.
Sedangkan di wilayah Kota (di masa itu disebut Kotapradja) Probolinggo, di tahun yang sama jumlah penduduknya ada 58.351 jiwa. Dari jumlah itu, ada 53.630 jiwa yang merupakan penduduk pribumi. Lalu 4.190 jiwa merupakan warga etnis Tionghoa; 482 jiwa warga etnis Arab; 13 jiwa warga etnis India; dan 36 jiwa warga Indo-Belanda.
Masih di awal tahun 1947, di seluruh wilayah Kotapradja dan Kabupaten Probolinggo, tercatat jumlah kendaraan sebagai berikut. Ada truk 18 unit, tetapi 5 unit tidak bisa dipakai. Ada mobil 34 unit, tetapi 10 unit tidak bisa dipakai. Oplet ada 6 unit, tetapi 2 tidak bisa dipakai. Sepeda motor hanya ada 16 unit, dan 3 unit di antaranya tidak bisa dipakai.
Di masa agresi militer Belanda pertama, Probolinggo tidak hanya menjadi medan perang, tetapi juga kerap terjadi tindak kriminal. Konon, pernah terjadi perampokan besar di Probolinggo. Kejadian ini membuat Pak Kelap prihatin.
“Pak Kelap kemudian mengumpulkan penjahat-penjahat di Probolinggo. Mereka dikumpulkan Pak Kelap di Blado (masuk Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo, red) lalu diomongi, ‘Sekarang jaman perang. Jangan merampok. Harus ikut berperang.’ Ternyata mereka menurut, ikut Pak Kelap berperang. Jadi, Pak Kelap itu punya anggota sendiri, ya orang-orang yang dulunya penjahat…” kisah Abu Sadali.
Saat Belanda menguasai kembali Probolinggo pada masa agresi militer pertama, tentara Indonesia bukannya diam saja. Tentara Indonesia tetap melakukan perlawanan, bergerilya.
Walau hanya bersenjata bambu runcing, tentara Indonesia berani menyerang pasukan Belanda dengan tanknya. Tentu saja tentara Indonesia banyak gugur.
Di masa itu, daerah Kebonsari Kulon pernah disebut sebagai “daerah merah” oleh Belanda karena perjuangan rakyat daerah tersebut tiada akhir. Bahkan ada Masjid Taqwa di Kebonsari Kulon yang dulu dikenal sebagai “masjid tentara”. Sebab, dari Masjid Taqwa ini selalu dibocorkan tanda-tanda atau isyarat apabila akan terjadi serangan oleh Belanda.
Masuk Oktober 1947, gerakan perlawanan oleh tentara Indonesia disebutkan sudah mulai teratur. Di Probolinggo, tentara Indonesia dibagi menjadi 4 sektor. Sektor Kraksaan dipimpin Letnan Dachlan atau Pak Kelap. Sektor Kota dipimpin Letnan Tojiman, kemudian Letnan Suyoso. Sektor Tengah dipimpin Letnan Moch. Iljas. Sektor Barat dipimpin Letnan Sutijoko. Sedangkan markas tentara di Bantaran dan Patalan dipimpin langsung oleh Major Abdussjarif.
Salah satu wujud perlawanan tentara bersama rakyat Probolinggo terjadi pada 31 Januari 1948. Dalam serangan yang disebut sebagai “serangan umum” di Probolinggo itu banyak jatuh korban di pihak pribumi. Disebutkan sampai ada kurang lebih 150 rakyat dari Kebonsari, Jrebeng Lor, Kanigaran, Jrebeng Wetan dan sekitarnya yang gugur ditembaki tentara Belanda. Dan salah satu yang gugur dalam peristiwa ini adalah imam Masjid Jamik yaitu Kiai Haji Abdulchamid.
Walau begitu, para tentara Indonesia tidak pernah berhenti melakukan perlawanan. Perlawanan sporadis terjadi di berbagai daerah di Probolinggo. Rakyat pun tidak berdiam diri. Rakyat ikut memberikan bantuan kepada para tentara, berupa bahan makanan maupun pakaian.
“Masih di masa itu, Pak Kelap dan pasukannya pernah bertempur melawan Pasukan Cakraningrat di daerah Watuwungkuk (Kecamatan Dringu). Ini cerita yang saya dengar dari temannya, Pak Kelap waktu itu kena tembak di bagian dadanya, darah mengucur, tetapi Pak Kelap tidak apa-apa,” kisah Abu Sadali lagi.
Siapa itu Pasukan Cakraningrat? “Dulu ada juga penduduk pribumi yang ikut membela Belanda. Pasukan Cakraningrat itu dulu kumpulan orang-orang Madura yang ikut jadi tentaranya Belanda,” jelas Abu Sadali.
Februari 1948 tentara Indonesia disebutkan mulai dihijrahkan. “Waktu itu tentara Indonesia seperti sedang menyatukan diri. Pak Kelap juga ikut hijrah ke Jogja,” kata Abu Sadali.
Sekembalinya dari Jogja, Kelap balik ke Probolinggo. Peperangan masih terjadi. Pada masa itu, tentara di Probolinggo dibagi menjadi tiga sektor. “Sektor barat dipimpin oleh Pak Maksin dengan nama pasukan Kera Putih. Sektor tengah dipimpin Sardji dan Erganto dengan nama pasukan Samber Nyawa. Sektor timur dipimpin Pak Kelap,” tutur Abu.
Tak jauh dari momen kepulangan Kelap dari Jogjakarta, istrinya yang bernama Kartini gugur tertembak di daerah Kuripan. “Bu Kartini itu tertembak dalam kondisi masih berseragam militer,” kisah Abu Sadali.
Semasa hidupnya, Kelap memiliki empat orang istri. Salah satunya adalah Kartini yang berasal dari Dringu.
Sepeninggal Kartini, istrinya, Kelap tetap gigih berjuang sampai agresi militer Belanda yang kedua pada 19 – 20 Desember 1948 berhasil dikandaskan tentara Indonesia yang datang mengalir ke daerah-daerah pendudukan Belanda, termasuk di Probolinggo.
“Setelah zaman agresi, Pak Kelap pangkatnya sudah kapten. Pak Kelap juga pernah menjadi anggota DPRD Kota Probolinggo, satu periode dengan Pak Kastip,” kata Abu Sadali kemudian mempersilahkan penulis datang ke rumahnya agar bisa melihat foto-foto Kelap di masa hidupnya.
Sama dengan sejawatnya, Kastip Budi Rahardjo, jenazah Markam Dachlan Kelap Wijaya juga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kota Probolinggo di Jl Arif Rahman Hakim. Begitu pula dengan istri Kelap yang gugur di medan perang.
***
Jumat (13/7/20) sekitar pukul 10.00 penulis mengunjungi kediaman Abu Sadali. Pria itu sudah berkemeja, sarung dan peci, bersiap shalat Jumat. Dalam percakapan lanjutan di teras rumahnya, Abu Sadali menyodorkan dua foto kenangan Kelap semasa hidup.
“Ini Pak Kelap waktu masih berpangkat letnan,” kata Abu sambil menyorongkan sebuah foto pria brewok berbadan kekar. “Kalau yang ini Pak Kelap sudah pangkat kapten,” susulnya.
“Nama Kelap itu ada singkatannya lho…” kata Abu Sadali mengejutkan penulis yang keasyikan mengamati dua foto lawas itu.
“KELAP singkatan dari Kesatuan Ekstremis Legiun Anti Penjajah,” kata Abu Sadali dengan mata tajam.
***
Penulis : Imam Wahyudi
Editor : RMNg Yudi
Foto : - Dokumen Keluarga Nani Kastip
- Dokumen Keluarga Abu Sadali
Narasumber :
- Nani Kastip
- Abu Sadali
- Subiyakto
Referensi :
1. Probolinggo Dalam Kantjah Revolusi 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 1950
2. Wikipedia
Berlangganan sekarang juga lalu dapatkan info berita terbaru dari kami. Atau daftar menjadi member dan akses semua konten, klik disini.